Toleransi Shalahudin Al-Ayubi

Ada sebuah kisah menarik yang saya temukan di sebuah situs yang insya Allah juga bermanfaat buat temen-temen.

***

Pada suatu hari, Shalahudin al-Ayubi sedang duduk di dalam perkemahan. Di saat dia sedang serius memberikan wejangan, tiba-tiba ada seorang perempuan kafir berdiri di depan perkemahannya. Perempuan berwajah muram ini berteriak dengan suara yang memekakkan telinga, sehingga suasana menjadi gaduh.

Melihat kejadian tersebut, para prajurit segera bertindak menjauhkan perempuan itu dari perkemahan. Namun, Shalahudin mencegah dan memerintahkan para prajurit agar membawa masuk perempuan itu. Begitu perempuan itu menghadap, pimpinan umat yang berhasil merebut kembali Jerusalem dari penguasaan Tentara Salib ini segera menanyakan hal yang menyebabkan perempuan itu bersedih. Ia menjawab, ”Anakku diculik dan suamiku disandera sebagai tawanan perang. Padahal, suamikulah yang memberikan nafkah buatku.”

Pernyataan perempuan tersebut membuat Shalahudin terharu. Seketika itu juga dia memerintahkan para prajurit agar segera melepaskan suami perempuan itu. Dia juga memerintahkan para prajurit, agar mencari anak yang hilang diculik.

Mendapatkan perintah tersebut, secepat kilat para prajurit melaksanakannya. Sampai akhirnya berhasil mendapatkan anak yang diculik itu. Dan dengan segera pula, si anak diserahkan kepada ibunya. Betapa bahagianya perempuan itu mendapatkan suami dan anaknya kembali ke pangkuannya.

Perempuan tersebut sangat berterima kasih serta memuji Shalahudin. Mendengar pernyataan dari perempuan itu, Shalahudin berkata, ”Kami tidak melakukan sesuatu apa pun, kecuali apa yang telah diperitahkan oleh agama kami.”

Mendengar ungkapan Shalahudin, perempuan itu lantas bertanya, ”Apakah agama tuan memerintahkan kasih sayang terhadap para musuh, serta membantu orang-orang yang lemah?” ”Benar bunda,” jawab Shalahudin. ”Islam adalah agama Allah di dunia ini. Agama-Nyalah yang senantiasa memberikan rahmat serta menjadi penyelamat bagi seluruh umat.”

Mendapat jawaban ini, perempuan itu tergugah benaknya. Ia pun bersyahadat bersama suaminya. ”Saya mencintai agama yang senantiasa bertoleransi dan mulia itu, seperti yang tecermin dari sifat-sifat dan akhlak tuan.”

Begitulah dakwah yang diajarkan Shalahudin. Ia menunjukkan dua hal sekaligus, Islam adalah agama yang santun dan mengajarkan toleransi. Dialah pemimpin Islam yang disebut dengan nada hormat, bahkan di kalangan pembesar Tentara Salib. Shalahudin menunjukkan, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam membawa perasaan nyaman terhadap pemeluknya, juga membuat orang lain simpati.

***

demikian semoga bermanfaat….

(di ambil dari situshttp://www.kebunhikmah.com… masih banyak kisah lain yang bisa di baca)

(ditulis 25 Oktober 2007, ditulis ulang 3 Maret 2009)

Leave a comment »

Inilah Kami, Perindu Kehalalan itu…

lovekhaifa haluk — piye kabare saudaraku semua…

kali ini, aq cuman pengen cerita pengalaman pribadi aja…

***

saudaraku, cerita ini baru kualami kurang lebih empat hari yang lalu, hari kamis tepatnya…

hari itu, salah seorang sahabat, ikhwan dari kampus tetangga angkatan 2003 (belum lulus) mengalami sebuah peristiwa sakral yang dinantikan oleh buannyaaak orang…… MENIKAH …

subhanallah, beliau orang yang hebat, keimanannya, kecerdasannya dan lain sebagainya begitu luar biasa…

sang akhwat pun demikian pula, teman satu angkatan bahkan satu kelas dengan sang ikhwan…

ane jadi ingat salah satu surat yang menyebutkan bahwa ikhwan (laki-laki) yang baik akan mendapatkan akhwat (perempuan) yang baik (afwan, ane lupa suratnya)…

sebentar-sebentar, ni belum masuk inti cerita…….

***

singkat cerita, dengan perjuangan luar biasa, sahabat-sahabat mempelai berdua, datang ke prosesi sakral ini…

ada yang naik motor, dan ada juga yang carter bus…

prosesi berlangsung di klaten…

begitu juga ane — bermotor ria…

sampai di tempat, tepat berlangsung proses akad nikah…

di bangunan mulia inilah sang ikhwan berujar dengan mantapnya…

Qabiltu nikahaha… dst (afwan gak apal, ngapalinnya kalo dah mau aja, hehehe…)

dan…

sah? sah… sah…

setelah itu,…(ni inti ceritanya…)

***

sang pembawa acaranya meminta kedua mempelai melanjutkan prosesi — meminta sang akhwat mencium tangan ikhwan di depannya, yang sekarang sudah jadi suaminya…

apa yang terjadi?

di sana begitu tampak TERAMAT SANGAT JELAS SEKALI bahwa sang ikhwan grogi dan bingung harus ngapain…

betapa tidak, akhwat di depannya, selama ini adalah seorang teman,

yang ketika berbicara di depannya harus menjaga diri dan pandangannya…

yang ketika syuro’ harus berhijab dengan selembar kain, dan hijab di hatinya…

sekarang, harus berjabat tangan, bahkan dicium tangannya pula…

luar biasa…

***

sahabat, apa maksud saya menceritakan semua ini…

hanya ingin memberikan semangat…

kepada yang masih bujang dan yang masih gadis,…

kepada mereka yang senantiasa menjaga dirinya dari yang haram,…

kepada mereka yang hingga sampai saat ini hanya mengingikan yang halal atasnya…

ketahuilah sahabat…

keindahan sebuah hal yang halal adalah sangat luaaar biiiiaaaassssaaaa…

jagalah diri kita atas hal yang haram,…

di masa yang akan datang, ada bagi kita pasangan bagi kita yang halal, di dunia…

dan bahkan bagi para ikhwan, di surga kita dianugerahkan bagi kita para bidadari yang rupawan di surga sana…

bahkan bagi engkau yang syahid dijalannya telah ada 72 bidadari menanti…

dan bagi akhwat, telah ada baginya para pria-pria tampan di sana (melebihi ane tentu, hehehehehe…)…

dan bahkan bila beruntung akan mendampingi para mujahid sahabat rasul di surga…

***

oke, sobat…

mari kita serukan dengan lantang…

KAMILAH PERINDU KEHALALAN…

***

semoga bermanfaat.

(ditulis 24 Maret 2008, diedit ulang 2 Maret 2009)

Leave a comment »

PAKU HATI

Sahabat, cuman pengen bagi-bagi cerita aja. Cerita ini ane ambil dari sebuah buku “Hikmah dari Seberang”, cuman afwan ane lupa siapa pengarangnya & ini ane ceritakan pakai bahasa ane sendiri ya.

Bagi yang belum pernah mendengarnya, semoga bermanfaat. Bagi yang sudah,……….

ya semoga bermanfaat juga.

***

Di sebuah keluarga, ada seorang anak yang berakhlak kurang baik. Dia sangat pemarah.

Hingga suatu ketika, ibunya memanggilnya dan menasehatinya.

“anakku,” ujar beliau lembut,”mulailah engkau belajar untuk tidak menjadi seorang yang pemarah, mulai saat ini”

“Ibu ini apa-apa’an sih? Sok menasehati segala!!!” hardik sang anak dengan keras.

Ibunya menahan amarahnya lalu berkata kembali.

“Satu Nasihat dari Ibu untukmu, terserah padamu akan kau laksanakan atau tidak. Saran Ibu, ketika amarahmu memuncak, redamlah. Luapkan saja dengan menancapkan satu paku di pagar belakang rumah kita setiap kali engkau marah.”

Panas hati sang anak mendengar nasihat yang panjang dari Ibunya. Namun, karena dirasa nasihat ini baik untuknya maka dilaksanakannya pula.

Akhirnya setiap dia marah maka ditancapkannya satu paku di pagar belakang rumahnya. Dan lama-kelamaan, seiring kelelahan karena harus terus menerus menancapkan paku, sifat pemarahnya makin hari makin berkurang hingga hilang sama sekali.

kemudian ditemuinya kembali sang ibu seraya berkata lembut, “Ibu, aku merasa sifat pemarahku sekarang mulai berkurang. Terima kasih atas saranmu dulu, dan maafkan aku karena sering marah padamu”

Ibunya pun dengan tersenyum menjawab, “Baiklah ibu memafkanmu. Sekarang setiap kali engkau mendapatkan kesenangan, cabutlah tiap paku yang ada di pagar belakang rumah kita.”

Anaknya pun sedikit keheranan, namun sama seperti sebelumnya, dilaksanakan juga nasihat tersebut. Hingga akhirnya semua paku telah tercabut habis dan diapun melapor kembali ke ibunya.

Mengetahui anaknya menjalankan nasihatnya dengan baik, kemudian pelajaran yang sesungguhnya berlangsung. Sang ibu mengajak anaknya menuju pagar tersebut.

Sesampainya di belakang rumah, ibunya berkata, “Coba kau lihat, apa yang tampak pada pagar itu.”

Anaknya berpikir lalu…”sebuah pagar dengan penuh lubang-lubang luka” jawabnya.

sang ibu dengan lembut berkata,”inilah engkau selama ini anakku. Setiap kali engkau marah kepada seseorang, saat itulah kau tancapkan paku, ke hati orang tersebut. Dan selanjutnya engkau pun meminta maaf kepadanya dan kau cabut paku itu.”

“Namun, perlu kau ketahui, setiap kau mencabut paku dari hati seseorang,selalu akan ada bekas luka yang membekas. Sama ketika engkau menancapkan paku di pagar ini dan mencabutnya.”

anaknya pun menangis dan memeluknya ” maafkan aku ibu,….” lirihnya.

***

sahabat,

saya hanya manusia biasa, yang penuh khilaf dan salah.

maafkan bila selama ini telah kutancapkan paku di hati antum semua…

selagi nyawa masih ada di jasad, kupinta keikhklasanmu atas khilaf diri ini…

(ditulis 20 Oktober 2008, diedit ulang 2 Maret 2009)

Comments (3) »

benang kecil,…

slipknot-onneedledengan filosofi benang, meski kecil, namun atasnya dua potong kain disatukan…

dan semoga Allah menjadikan coretan-coretan kecil ini bermanfaat untuk semua…

***

terus bergarak atau tergantikan, lillah, Insya Allah…

Leave a comment »